Menjadi Generasi Qurani Berakhlakul Karimah di Dunia Digital

Bulan Ramadan menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk memperkuat keimanan, memperbaiki akhlak, serta meningkatkan kepedulian sosial. Dalam suasana penuh keberkahan ini, SMKN 2 Singosari menyelenggarakan kegiatan doa bersama dan tausyiah dengan tema “Menjadi Generasi Qurani yang Berakhlakul Karimah di Dunia Digital.” Kegiatan ini diikuti oleh seluruh warga sekolah dengan penuh khidmat sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Pondok Ramadan.

Kegiatan diawali dengan pembacaan doa dan sholawat yang dipimpin oleh Bapak M. Juzki Arif, M.Pd. Seluruh peserta larut dalam suasana religius ketika bersama-sama memanjatkan doa agar diberi keberkahan, kesehatan, serta kemudahan dalam menjalankan ibadah di hari-hari terakhir bulan suci Ramadan. Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan bulan Ramadan sebagai momentum memperbaiki diri.

“Ramadan adalah bulan penuh berkah dan ampunan. Mari kita manfaatkan kesempatan ini untuk memperbanyak ibadah, memperkuat iman, serta menumbuhkan kepedulian kepada sesama,” ungkap Bapak M. Juzki Arif, M.Pd.

Dalam tausyiahnya, Ustadzah Yudistira Ruhaniyah, M.Pd. menyampaikan materi tentang pentingnya melatih kejujuran dalam Islam, terutama bagi generasi muda yang hidup di era digital. Ia menjelaskan bahwa Ramadan tidak hanya melatih umat Islam untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kejujuran, kedisiplinan, dan keikhlasan dalam beribadah. Orang yang berpuasa belajar untuk jujur kepada diri sendiri dan kepada Allah SWT, karena meskipun tidak ada manusia yang melihat, Allah Maha Mengetahui setiap perbuatan hamba-Nya.

“Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kejujuran dan pengendalian diri. Inilah yang membentuk pribadi seorang Muslim agar menjadi generasi Qurani yang berakhlakul karimah,” tutur Ustadzah Yudistira Ruhaniyah, M.Pd.

Beliau juga menekankan pentingnya menjaga ibadah sebagai pondasi kehidupan seorang Muslim. Shalat lima waktu merupakan ibadah wajib yang harus dilaksanakan sepanjang hayat sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Selain itu, pada bulan Ramadan umat Islam juga dianjurkan melaksanakan shalat sunnah tarawih sebagai amalan yang membawa banyak pahala. Tidak kalah penting, sikap berbakti kepada orang tua dan menghormati guru menjadi kunci untuk mendapatkan ridho Allah SWT.

“Mau sebaik apa pun prestasi kalian dan seterkenal apa pun kalian, jika tidak menghormati orang tua dan guru yang telah membimbing kalian, maka keberkahan hidup akan sulit diraih,” pesan Ustadzah Yudistira Ruhaniyah, M.Pd.

Selain itu, tausyiah juga menyoroti pentingnya etika dalam bermedia sosial. Generasi muda di era digital diingatkan untuk berpikir terlebih dahulu sebelum memposting sesuatu di media sosial. Setiap unggahan dapat memberikan dampak yang luas, bahkan bisa menjadi dosa jariyah apabila mengandung hal yang tidak baik.

“Gunakan media sosial dengan bijak. Jadikan sebagai sarana menyebarkan kebaikan, bukan justru menjadi jalan yang menjerumuskan kita pada hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam,” tambahnya.

Sebagai bentuk kepedulian sosial di bulan Ramadan, kegiatan ini juga diakhiri dengan penyaluran infaq kepada 69 siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu serta anak yatim piatu. Penyaluran infaq tersebut menjadi wujud nyata semangat berbagi dan kebersamaan di lingkungan SMKN 2 Singosari.

Melalui doa bersama, tausyiah, dan kegiatan berbagi ini, SMKN 2 Singosari berharap dapat membentuk generasi Qurani yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga memiliki akhlakul karimah serta mampu bersikap bijak dalam menghadapi tantangan dunia digital. Ramadan menjadi momen penting untuk memperkuat iman, memperbaiki akhlak, serta menanamkan nilai-nilai kebaikan yang akan terus dibawa dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *